PROSES PEMBUATAN TUDONG DULANG
Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkal
Pinang adalah salah satu dari dua alat utama pada Tradisi Nganggung, Tradisi
nganggung adalah salah satu kebiasaan yang lahir di masyarakat Melayu
Bangka Belitung, khususnya di Pulau Bangka, kebiasaan ini akhirnya menjadi
sebuah tradisi yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Nganggung
merupakan adat membawa makanan dari masing-masing rumah penduduk menuju ke satu
tempat pertemuan besar, biasanya berupa Masjid, Surau, Langgar, atau Lapangan
diwaktu-waktu tertentu pada saat Upacara Kematian, Peringatan Hari Besar Agama
Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Nisfu Sya'ban, Muharram, serta selepas
shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Secara
Spesifikasi Tudong Dulang, merupakan sebuah alat penutup makanan berbentuk
setengah lingkaran, berbahan daun pandan hutan yang oleh orang Bangka disebut
mengkuang, dengan jumlah helaian antara 64-68 lembar berukuran 1-1,5 cm per
helaiannya, pada bagian bawah terdapat bingkai penjepit helaian berbahan kulit
pelepah kabung atau bambu ada juga yang menggunakan rotan, dengan lebar
diameter 49-55 cm.
Pemilik
Pengetahuan Tradisional Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang ini
antara lain, Aji Lie Fon Li, Ace Ai Hua, Ace Ayu, dll, mereka selain membuat
untuk dijual, sebagian dari mereka juga menggajar di Sekolah Sekolah. Sementara
untuk Tokoh icon, seorang Budayawan Pelestari Tudong Dulang atau Tudung Saji
Khas Pangkalpinang adalah Ratna Purnamasari atau yang lebih popular dengan
Julukannya sebagai Bunda Tudung Saji, beliau mengembalikan memori ingatan
masyarakat Bangka terutamanya Pangkalpinang pada Tradisi Nganggung melalui
salah satu dari dua alat utama nya yaitu Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas
Pangkalpinang dengan berbagai cara kreatif dan inovatif, sehingga yang awalnya
orang-orang sudah lupa pada Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang
ini, perlahan ingat kembali bahkan tak jarang orang ingin belajar membuatnya.
Menurut Bunda Tudung Saji Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkal Pinang
mulai digunakan masyarakat untuk Tradisi Nganggung di Kota Pangkalpinang sekitar
tahun 1975
TATACARA PEMBUATAN TUDONG DULANG
Pertama : ambil daun pandan hutan (Mengkuang : tumbuh didataran rendah) pada saat air surut atau bulan turun, agar kadar air pada daun tidak banyak atau sedikit, untuk mempermudah atau mempercepat proses pengeringan, dalam istilah orang Bangkanya dilayor, kemudian dijemur pada terik matahari sekitar 7 hari, setelah kering sempurna digabungkan dalam satu gulungan besar, agar daun tidak mudah rusak dan mempermudah dalam hal penyimpanan.
Kedua : setelah kering sempura pilih helaian daun yang putih bersih tanpa noda termasuk jamur dan kotoran lainnya (dibersihkan dengan cara dilap dengan kain), lalu belah selebar 1-1,5 cm dengan panjang 32 cm sebanyak 68 lembar.
Ketiga : siapkan bingkai dari belahan kulit dahan/pelepah kabung bagian luar selebar 1-1,5 cm dengan panjang 1,2 m, keringkan.
Keempat : siapkan Benang kasur dan jarum.
Kelima : susun daun pandan hutan atau mengkuang dengan cara dijahit menggunakan benang kasur hingga membentuk setengah lingkaran, agar susunan semakin kuat, maka jumlah jahitan sebanyak 6 lingkaran pada 6 tingkatan.
Keenam : etelah itu untuk pengunci agar tudong dulang tidak mudah rusak, pasang bingkai Tudong Dulang dengan posisi dua bilah kulit dahan/pelepah kabung menjepit posisi daun pandan dengan cara diikat dengan benang kasur atau tali plastic sebanyak jarak antar helaian daun pandan hutan.
Ketujuh : proses akhir pembuatan Tudong Dulang adalah memasang tutupan agar Tudong Dulang tidak berlubang, dengan dua lembar utuh daun pandan hutan yang telah dibentuk bundar, selain berfungsi untuk menutup lubang, bagian ini juga digunakan untuk membentuk ornament Bintang Sisi Delapan pada Tudong Dulang dan untuk memperkokoh bagian atas tudong Dulang.
Kesembilan : untuk mempercantik atau mempertegas makna dan filosofi, Tudong Dulang Kemudian dicat, menggunakan warna utama orang Melayu Bangka yaitu Merah, Kuning dan Hijau, tujuan lain dari pengecatan bagian luar adalah agar daun tidak mudah basah, agar terhindar dari tumbuhnya jamur, sementara bagian dalam dibiarkan seaslinya dengan tujuan agar makanan tahan lama atau tidak mudah basi