Kamis, 09 April 2020

BTS SEBAGAI FRAKTISI TUDONG DULANG

PROSES PEMBUATAN TUDONG DULANG



 Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkal Pinang adalah salah satu dari dua alat utama pada Tradisi Nganggung, Tradisi nganggung adalah salah satu kebiasaan yang lahir di masyarakat Melayu Bangka Belitung, khususnya di Pulau Bangka, kebiasaan ini akhirnya menjadi sebuah tradisi yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Nganggung merupakan adat membawa makanan dari masing-masing rumah penduduk menuju ke satu tempat pertemuan besar, biasanya berupa Masjid, Surau, Langgar, atau Lapangan diwaktu-waktu tertentu pada saat Upacara Kematian, Peringatan Hari Besar Agama Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Nisfu Sya'ban, Muharram, serta selepas shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Secara Spesifikasi Tudong Dulang, merupakan sebuah alat penutup makanan berbentuk setengah lingkaran, berbahan daun pandan hutan yang oleh orang Bangka disebut mengkuang, dengan jumlah helaian antara 64-68 lembar berukuran 1-1,5 cm per helaiannya, pada bagian bawah terdapat bingkai penjepit helaian berbahan kulit pelepah kabung atau bambu ada juga yang menggunakan rotan, dengan lebar diameter 49-55 cm.

 

Pemilik Pengetahuan Tradisional Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang ini antara lain, Aji Lie Fon Li, Ace Ai Hua, Ace Ayu, dll, mereka selain membuat untuk dijual, sebagian dari mereka juga menggajar di Sekolah Sekolah. Sementara untuk Tokoh icon, seorang Budayawan Pelestari Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang adalah Ratna Purnamasari atau yang lebih popular dengan Julukannya sebagai Bunda Tudung Saji, beliau mengembalikan memori ingatan masyarakat Bangka terutamanya Pangkalpinang pada Tradisi Nganggung melalui salah satu dari dua alat utama nya yaitu Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang dengan berbagai cara kreatif dan inovatif, sehingga yang awalnya orang-orang sudah lupa pada Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkalpinang ini, perlahan ingat kembali bahkan tak jarang orang ingin belajar membuatnya. Menurut Bunda Tudung Saji Tudong Dulang atau Tudung Saji Khas Pangkal Pinang mulai digunakan masyarakat untuk Tradisi Nganggung di Kota Pangkalpinang sekitar tahun 1975

 

TATACARA PEMBUATAN TUDONG DULANG

Pertama : ambil daun pandan hutan (Mengkuang : tumbuh didataran rendah) pada saat air surut atau bulan turun, agar kadar air pada daun tidak banyak atau sedikit, untuk mempermudah atau mempercepat proses pengeringan, dalam istilah orang Bangkanya dilayor, kemudian dijemur pada terik matahari sekitar 7 hari, setelah kering sempurna digabungkan dalam satu gulungan besar, agar daun tidak mudah rusak dan mempermudah dalam hal penyimpanan. 

Kedua : setelah kering sempura pilih helaian daun yang putih bersih tanpa noda termasuk jamur dan kotoran lainnya (dibersihkan dengan cara dilap dengan kain), lalu belah selebar 1-1,5 cm dengan panjang 32 cm sebanyak 68 lembar.

Ketiga : siapkan bingkai dari belahan kulit dahan/pelepah kabung bagian luar selebar 1-1,5 cm dengan panjang 1,2 m, keringkan.

Keempat : siapkan Benang kasur dan jarum.

Kelima : susun daun pandan hutan atau mengkuang dengan cara dijahit menggunakan benang kasur hingga membentuk setengah lingkaran, agar susunan semakin kuat, maka jumlah jahitan sebanyak 6 lingkaran pada 6 tingkatan.

Keenam : etelah itu untuk pengunci agar tudong dulang tidak mudah rusak, pasang bingkai Tudong Dulang dengan posisi dua bilah kulit dahan/pelepah kabung menjepit posisi daun pandan dengan cara diikat dengan benang kasur atau tali plastic sebanyak jarak antar helaian daun pandan hutan.

Ketujuh : proses akhir pembuatan Tudong Dulang adalah memasang tutupan agar Tudong Dulang tidak berlubang, dengan dua lembar utuh daun pandan hutan yang telah dibentuk bundar, selain berfungsi untuk menutup lubang, bagian ini juga digunakan untuk membentuk ornament Bintang Sisi Delapan  pada Tudong Dulang dan untuk memperkokoh bagian atas tudong Dulang.

Kesembilan : untuk mempercantik atau mempertegas makna dan filosofi, Tudong Dulang Kemudian dicat, menggunakan warna utama orang Melayu Bangka yaitu Merah, Kuning dan Hijau, tujuan lain dari pengecatan bagian luar adalah agar daun tidak mudah basah, agar terhindar dari tumbuhnya jamur, sementara bagian dalam dibiarkan seaslinya dengan tujuan agar makanan tahan lama atau tidak mudah basi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar